“Fahmi, ayo
sarapan dulu!”, teriakan Ibu
membangunkanku dari pikiran tadi. Aku datangi Ibu. Aku lihat sarapan sudah
tertata rapi di meja makan. Aku paling tidak bisa menolak masakan Ibu. Masakan
Ibu bagiku yang paling lezat dan paling bergizi di dunia.
“Bu, hari ini
aku pergi kerja. Ada bedah buku di alun-alun kota. Aku di minta mengutip hasil
presentasi penulisnya.”
“Iya, tidak
apa. Mumpung masih muda kamu harus kerja yang giat. Belikan ibu bukunya nanti,
sekalian sama tanda tangan penulisnya.”, jawab Ibuku berseri-seri. Aku hanya
tersenyum simpul mendengarkan jawaban itu. Mengambil beberapa centong nasi.
Melahapnya hingga tidak satupun nasi dan lauk tersisa. Begitulah caraku
menghargai setiap masakan Ibu. Dalam pikiranku, makanannya habis berarti
masakannya disukai. Jadi, Ibu tidak merasa sia-sia telah memasak untukku.